rza3z0iXwfrhP0Bo61a36W2lz3i7Fxgii3ShC0NK

Cari Blog Ini

Laporkan Penyalahgunaan

Dirundung Lara (6)

 Foto Ilustrasi: Mitradi HFA

GUDATANews.com, Bengkulu - Di suatu siang yang entah ada mukjizat apa, Sekar memulai berbicara tanpa dipancing tanpa diminta. Dia menanyakan apa pendapatku mengenai mahasiswa yang menjadi pembantu rumah tangga.

Saya bilang seharusnya mahasiswa itu bangga. Langsung saya sambar dengan nasehat kepada Sekar untuk selalu baik memperlakukan pembantu di tempat tinggalnya sekarang. Sekar tinggal bersama kenalan Ibu nya di Bengkulu.

Kusiram lagi dengan bagaimana pengalaman saya dahulu ketika menjadi waitress yang pada kenyataannya diperlakukan sebagai pembantu oleh kebanyakan anak muda. Kuguyur dengan nasehat supaya Sekar bersyukur dengan rezeki yang diberikan Tuhan kepadanya.

Di satu persentasi yang tidak terlalu bergairah di siang bolong. Ada Sekar yang berdiri bergetar di sudut depan kelas. Tampaknya dia sangat gugup. Ini persentasi pertamanya. Meski terbata-bata dia berhasil menyelesaikan persentasi pertamanya.

Selama dia berbicara banyak teman-teman yang tertawa. Tapi saya tetap menatap meyakinkan Sekar bahwa ia pasti bisa. Sekilas sebelum selesai saya sempat melihat matanya sembab. Mungkin sedang putus cinta, batinku.

Setelah kelas usai saya menghampirinya. Menanyakan perihal apa matanya sembab. Dia diam, seperti ada ucapan yang tertahan. Saya melanjutkan spekulasi. Saya bilang ada banyak laki-laki yang akan datang kepadanya.

Kehilangan satu laki-laki tidak membuat Sekar menjadi mati, di luar sana ada tangisan yang meraung meminta untuk dilanjutkan kuliahnya. Sekar menunduk. Saya  pikir saya teman yang baik.

Menjelang Magrib saya mendengar ketokan pintu. Saya  sedang beristirahat sehabis pulang dari kampus dan merapikan rumah Bibi. Saya bangkit, membuka pintu. Sekar menggendong sebuah tas sedikit lusuh yang menggembung.

Kami masuk ke kamarku. Matanya sembap memerah. Pandangannya sayu. Langkanya gontai. Saya tidak mau membuka pembicaraan sebelum saya menutup rapat pintu kamarku. Klik. Pintu kamar saya kunci.

Baru saja saya ingin memarahi Sekar karena pikiran bodohnya yang ingin kabur dari rumah karena putus cinta, saya tercekat. Mulut kaku Sekar gemetar, suara samar-samar yang aku dengar.

Terdengar seperti : Kemarin saya memecahkan gelas. Hari ini saya memecahkan gelas lagi. Saya memang salah. Tetapi berbulan-bulan saya sudah menahan hati dicaci maki. Walaupun paham derajat kami beda sekali, tetapi menegur kesalahan tidak harus dengan cacian bukan. Jadi aku memutuskan berhenti dan keluar dari rumah majikanku.

Saya membisu. Terpaku. Jauh sekali dari teman yang baik saya ini. Kesombongan yang saya pupuk berbulan-bulan, runtuh dengan ucapan sekali helaan dari seorang teman yang saat persentasi saja tangannya gemetaran. Rasa bersalah saya tebus dengan pelukan segunung kehangatan.

Pelajaran besar yang saya sadari, berada dalam lara jangan membuat telingamu tuli atas lara dari yang berbeda raga. Dipenuhi lara jangan sampai memupuk ria, apalagi membandingkan lara yang kau dan orang lain rasa. Bersama-sama dalam lara harusnya merapatkan barisan kita, untuk bersama sama menjemput asa demi masa depan yang lebih baik. (Selesai/ Karya: Radha Dinda Agisni)

Artikel Terkait

Artikel Terkait