rza3z0iXwfrhP0Bo61a36W2lz3i7Fxgii3ShC0NK

Cari Blog Ini

Laporkan Penyalahgunaan

Dirundung Lara (2)

 

Foto Ilustrasi: Mitradi HFA

GUDATANews.com,  Bengkulu - Seperti halnya Bunda, kami Juga sedikit tertekan. Kami paham Bunda sangat tertekan dengan keadaan ini. Tapi yang kami kurang paham adalah saat Bunda menyumpah serapah kepada kami atas apa yang dilakukan Ayah.

Berhari-hari. Berbulan-bulan. Jika ingin memilih, kami juga tidak ingin ini terjadi. Tapi takdir Tuhan tidak satupun yang mampu meloby. Jadi kami hanya diam. Menyimpan perasaan dalam-dalam saat teman-teman seusia kami masih sibuk main sim salabiman.

Saya sudah mampu memahami beban besar, meskipun belum tamat  dari Sekolah Dasar. Maka saya mencoba mencari akal supaya tidak terlalu menjadi beban bagi Bunda yang sudah cukup punya beban besar. Saya berjualan jajanan ringan di sekolah. Mencoba melepaskan setidaknya lima ratus rupiah beban Bunda setiap hari.

Setamat SMA, saya tidak langsung melanjutkan kuliah. Selain karena tidak lulus tes SBMPTN, juga karena pada saat itu keadaan perekonomian kami sedang sangat sulit. Bunda menentang keputusanku untuk kuliah. Kakakku yang sedang menempuh kuliah di Universitas Riau sedang membutuhkan uang yang tidak sedikit. Sedangkan untuk makan saja kadang cukup kadang tidak.

Kalau orang lain mengira bahwa Bunda tidak peduli terhadap pendidikan anak-anaknya, adalah salah besar. Adalah kepedulian Bunda yang terlalu besar akan pendidikan sehingga Bunda terlilit hutang yang cukup besar untuk kedua kalinya. Juga kepedulian Bunda adalah saksi bisu mengapa perabotan di rumah kami semakin lama semakin sedikit.

Semakin dilarang semakin ditentang. Salah satu sifat buruk yang kemudian membawa kebaikan dalam diriku. Yang benar-benar bertanggung jawab terhadap kesuksesanmu adalah dirimu sendiri, bunyi sebuah kalimat motivasi.

Maka saya  memutuskan untuk tinggal di rumah Bibi di Ibu Kota Provinsi. Pergi dengan amarah, berangkat tanpa pamit. Mencari pekerjaan apapun untuk uang pangkal jika tahun depan lulus tes SBMPTN dan mendapatkan Beasiswa Bidikmisi.

Rezeki Tuhan membawaku ke salah satu rumah makan di Kota Bengkulu. Di sana aku belajar menjadi mesin. Tidak melambat saat hujan. Tidak meledak saat panas. Pelanggan adalah Raja. Jadilah dijadikan bahan tertawa, dianggap tidak ada, diperlakukan seperti pelayan raja sudah biasa.

Pernah suatu ketika, ada seorang tamu, yang dengan segala kerendahan hati aku layani dengan ramah karena sudah seperti itu SOP yang diajarkan. Sayangnya dalam persepsi beberapa diri, kerendahan hati hampir disamaratakan dengan menjajakan diri. (Bersambung/ Karya: Radha Dinda Agisni)

Artikel Terkait

Artikel Terkait