rza3z0iXwfrhP0Bo61a36W2lz3i7Fxgii3ShC0NK

Cari Blog Ini

Laporkan Penyalahgunaan

Dirundung Lara (3)

 Foto Ilustrasi: Mitradi HFA

GUDATANews.com, Bengkulu - Karena saya sudah belajar menjadi mesin, maka dalam keadaan mendidih pun saya berusaha tidak meledak. Walaupun perubahan air muka tidak mungkin dapat ditolak, saya berusaha tersenyum dengan sorotan mata menyalak menahan amarah yang tak terkira.

Sembilan bulan di sana sudah cukup mengajarkan pada diri saya sendiri bahwa hidup memang tidak mudah bagi kita yang tidak punya, tidak kecuali sejuta usaha dan doa kita pemiliknya. Pulang adalah tempat istirahat paling tenang. Setidaknya itu kata orang kebanyakan.

Seperti orang-orang. Setelah bekerja saya langsung pulang. Bersamaan dengan lonceng tengah malam yang berdentang. Saya pulang. Saya sudah siap. Dua telingaku sudah siap mendengar bisikan yang terdengar lantang dari berbagai penjuru arah. Mereka bertanya apakah aku wanita jalang. Kalimat itu sebenarnya membuat egoku tertantang.

Untung saya cepat sadar bahwa saya sedang tinggal di rumah orang lain. Menantang sama artinya mempersilahkan diri untuk ditendang. Malam hari akan jadi semakin panjang jika terus menenggelamkan diri dalam omongan orang sekitar. Jadi saya memutuskan untuk memejamkan mata secara utuh.

Sebenarnya mataku tidak rela terbuka setelah empat jam lalu baru terpejam. Tapi pagi tidak perlu diminta untuk datang. Sama halnya dengan pekerjaan di rumah Bibi, tidak perlu diminta untuk dituntaskan, menjaga diri untuk tetap memegang label ‘tau diri’ membuat saya membuang jauh-jauh rasa letih di kaki.  Pagi juga menjadi waktu yang panjang berkat mereka.

Katanya saya tidak seperti anak Bu Jeni yang lulus di dua universitas sekaligus. Tidak apa, orang sukses akan membutuhkan biografi yang cukup panjang, batinku. Dengan hati lapang menunggu jam 12 siang saya tetap menunggu barang-barang dagang. Walaupun tiga perempatnya mendengar omongan centang perenang yang menugaskan hati untuk lebih lapang.

Pagi jadi petang. Petang jadi pagi, Tak dinyana, hari ini adalah ujian tes SBMPTN. Dengan ongkos seadanya dan modal meminjam kendaraan teman kerja, saya berangkat. Berangkat dengan penuh harap. Sejak awal bekerja tujuan utamaku memang menabung. Jadi saya hanya memegang pegangan sedikit. Sampai di menit ke sepuluh sebelum tes dimulai, saya teringat satu hal.  (Bersambung/ Karya: Radha Dinda Agisni)

Artikel Terkait

Artikel Terkait