rza3z0iXwfrhP0Bo61a36W2lz3i7Fxgii3ShC0NK

Cari Blog Ini

Laporkan Penyalahgunaan

Mencari Nafkah Bagian dari Ibadah

 Mencari Nafkah Bagian dari Ibadah. (Foto: Mitradi HFA)

GUDATANews.com, Kota Bengkulu – Mencari nafkah bagian daripada ibadah bila dilaksanakan berdasarkan petunjuk Allah SWT dan harus bersyukur atas rejeki yang diterima.

‘’Setelah menunaikan ibadah salat maka umat Islam diminta bertebaran untuk mencari nafkah sebagai bagian dari ibadah,’’ kata Khatib Salat Jum’at di Masjid Al Iman Jalan Seruni Kelurahan Nusa Indah Kota Bengkulu.

Ia menjelaskan, ketika mencari nafkah umat Islam diminta tidak hanya terjebak lebih sekedar mengutamakan kebutuhan   untuk makan dan minum.

‘’Jika mencari nafkah tidak berdasarkan ibadah maka yang bersangkutan akan mencari hasil sebanyak mungkin tanpa peduli kepada orang lain,’’ ujarnya.

Ia mencontohkan, banyak orang menjadi PNS dengan cara menyogok akhirnya melakukan korupsi untuk mengembalikan modal. Pedagang seringkali mengurangi berat timbangan barang dagangannya untuk mendapatkan keuntungan yang besar.

‘’Contoh lainnya seorang majikan lebih suka memeras bawahannya, pengangguran merampok harta orang lain dengan alasan untuk bertahan hidup, sehingga pendapatan yang didapat pun tidak bisa membuatnya hidup damai untuk diri sendiri,  sering curiga, mencurangi teman dan tak bersyukur,’’ ungkapnya.

Ia menguraikan,  adapun syarat mencari nafkah berdasarkan kitab suci Al Qur’an antara lain jangan makan harta teman dengan cara batil. Bekerja mencari yang halal itu kewajiban agar rejeki berkah. Allah SWT mencintai umatnya yang mencari rejeki untuk keluarga karena perjuangan mencari rejeki bisa diibaratkan berjuang di medan perang.

‘’Kemudian usaha mencari nafkah harus diupayakan  dengan cara yang halal. Bila melakukan kerja sama dalam mencari rejeki maka harus jelas hak dan kewajiban. Seorang buruh tidak hanya menuntut haknya saja, tetapi juga harus mengerti kewajibannya. Sebaliknya, seorang majikan juga harus bisa bersikap manusiawi kepada bawahannya,’’ tuturnya.

Selanjutnya, ia menguraikan bahwa sesuatu yang diusahakan itu juga harus halal. Contohnya jangan menjual minuman keras dalam memperoleh rejeki. Bekerja dengan keras dan hasilnya juga bertujuan untuk ibadah.

‘’Syukuri yang diperoleh dari Allah SWT sehingga akan ditambah rejekinya oleh Allah SWT, sedekahkan hasil dari rejeki yang didapat, selalu ingat kepada Allah SWT dan tak boleh lalai atas semua perintah Allah SWT serta menjauhi larangan Allah SWT,’’ tutupnya. (Mitradi HFA)

Artikel Terkait

Artikel Terkait