rza3z0iXwfrhP0Bo61a36W2lz3i7Fxgii3ShC0NK

Cari Blog Ini

Laporkan Penyalahgunaan

Pesan Harian UJH: Diam

 


GUDATAnews.com, Bengkulu - Selain menjaga dari sesuatu yang membatalkan puasa, selama berpuasa kita juga dituntut menjaga lisan. Sebab lisan yang terbiasa berdusta, berghibah, mencaci bahkan memfitnah bisa jadi membuat puasanya sia-sia. Rasulullah bersabda

رُبَّ صائمٍ: حَظُّه من صِيامِه الجوعُ والعطشُ

Artinya, "Betapa kerap orang berpuasa: yang dia dapat dari puasanya hanyalah lapar dan haus," (HR Thabrani dari Ibnu Umar).

Diam bukan hanya menahan diri untuk tidak berbicara yang baik-baik, diam juga dituntut tidak meladeni semua ucapan caci maki dari siapapun baik lisan maupun tulisa. Sebab perlu kita ketahui juga bahwa

Orang yang diam saat  dicaci maki itu bukan karena dia bodoh, justru dia lebih pintar karena dia memahami bahwa melawan orang bodoh cukup dengan diam.

Betapa banyak kita baca dalam beberapa grup yang kerjanyanya cuma caci maki, mengupat, ghibah bahkan fitnah tetapi yang dicaci maki jangankan menjawab membaca pun mungkin tidak karena rugi menghabiskan waktu berjam-jam di berbagai grup hanya untuk mencaci maki orang lain.

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ مَسْعُودٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: سِبَابُ المٌسْلِمِ فُسُوقٌ، وَقِتَالُهُ كُفْر

Dari Abdullah bin Mas’ud RA berkata, “Rasulullah ﷺ  bersabda, ‘Mencela seorang muslim merupakan kefasikan dan memeranginya merupakan kekufuran’.” 

Pagar Dewa, 04042023

Salam UJH. (Red)

Artikel Terkait

Artikel Terkait