rza3z0iXwfrhP0Bo61a36W2lz3i7Fxgii3ShC0NK

Cari Blog Ini

Laporkan Penyalahgunaan

Pesan Harian UJH: Mengapa Sulit Memaafkan

 


GUDATAnews.com, Bengkulu - Tidak semua orang bisa memberi maaf atau meminta maaf. Mengapa demikian?

Imam Al-Ghazali, menyampaikan pemaafan itu berlangsung bertahap. Tentu tahapnya disiapkan dan dijalani orang-orang yang berkomitmen memaafkan.

Pertama: Gadhab (marah). Di sini orang yang menjadi korban transgresi menyadari adanya rasa marah (sakit hati, iri dengki, keinginan balas dendam) yang dapat menghadirkan dampak buruk dari kemarahan.

Kedua: Hilmun (pengendalian rasa tersinggung). Ada proses untuk membuat diri tidak mudah tersinggung. Awalnya boleh jadi ada keterpaksaan untuk membuat diri tidak mudah marah, tapi lama kelamaan jadi kebiasaan. “Orang yang kuat bukan orang yang pandai bergulat tapi yang mampu menguasai diri saat marah.” (HR Bukhari & Muslim).

Ketiga: ‘Afwun. Suatu keadaan saat sesorang berhak atas suatu hak, lalu hak tersebut digugurkannya (dihilangkannya) dan dilepaskannya dari orang yang harus menunaikan hak tersebut. Islam menjamin masuk surga bagi orang yang memaafkan kesalahan orang lain.

Keempat: Ihsan. Tahapan ini adalah tahapan di mana individu membalas kezaliman dengan kasih sayang. Dalam tahap ini seorang berupaya agar ia dapat menyediakan berbagai kebaikan, baik berupa materi, perhatian, doa, dan sebagainya kepada seseorang yang telah teridentifikasi sebagai balasan yang lebih baik dari apa yang sudah diterimnya dari orang lain.

Kelima: al-Rifqun. Ini adalah suatu bentuk belas kasihan yang diwujudkan dalam perilaku/sikap lemah lembut. Di sini seseorang berbuat baik kepada orang lain karena kepeduliannya yang sangat tinggi kepada orang yang ditolongnya.

Pagar Dewa, 27042023

Salam UJH. (Red)

Artikel Terkait

Artikel Terkait