rza3z0iXwfrhP0Bo61a36W2lz3i7Fxgii3ShC0NK

Cari Blog Ini

Laporkan Penyalahgunaan

Kisah 15 Tahun Kiprah Sang Guru Mengaji

Ummi beserta para santrinya. (Foto: Dokumen)

GUDATAnews.com, Kota Bengkulu - Menjadi seorang ibu rumah tangga adalah cita-cita masa kecilku. Bagiku seorang ibu rumah tangga adalah ujung tombak bagi kemajuan suatu bangsa.

Ibu merupakan madrasah pertama bagi anak-anaknya. Jika anak-anak sudah dididik dengan baik di lingkungan keluarganya, insyaa Allah di luar rumah anak-anak tersebut akan menunjukkan hal positif.

Seorang ibu rumah tangga bekerja 24 jam sehari, puluhan hari dalam sebulan. Tanpa ada libur, tanpa ada cuti tahunan, gaji yang dia peroleh langsung dari Allah SWT. Itu akan dia dapatkan jika seorang ibu rumah tangga bekerja dengan penuh keikhlasan dan penuh tanggung jawab. Ibu-ibu yang berkarir di luar sana, banggalah karena kalian bisa menjadi ibu rumah tangga dan juga abdi negara.

Sewaktu menempuh pendidikan di bangku SMP 6 Kota Bengkulu dan aktif sebagai anggota Penggalang  Gerakan Pramuka tepatnya tergabung pada regu Teratai, cita-cita menjadi ibu rumah tangga sempat bergeser. 

Ingin Jadi Pendakwah

Sewaktu SMP aku bercita-cita menjadi seorang pendakwah, yang selalu berbicara di depan banyak orang, berbagi ilmu agama setiap saat.  Keinginan itu muncul begitu saja karena melihat Kakak Kakak angkatan yang  membimbing kami berbicara tanpa ada sedikitpun rasa canggung.

Lulus SMP tahun 1991, aku melanjutkan pendidikan ke SMU Negeri Pagar Dewa.  Di SMU aku bergabung di ekstrakurikuler Cinta Alam. Cinta Alam telah melatih fisikku menjadi seorang wanita yang kuat tapi tidak tomboi, disinilah mataku semakin terbuka lebar,  betapa kecilnya aku dihadapan Allah SWT.

Semua karena seringnya kami melakukan berbagai kegiatan di alam bebas.

Lepas dari  SMU tahun 1994, jiwaku meronta, aku ingin berorganisasi yang bisa diakui masyarakat luas tapi juga bermaanfaat bagi diriku dikemudian hari.  Lalu aku  bergabung dengan Gerakan Remaja Fiisabiilillah (GRF). Sedikit seram namanya, tapi tidak pada kenyataannya.

Di GRF kami diajari cara membaca Al Quran yang baik dan benar, belajar menjadi penceramah lewat Kultum, belajar doa setelah shalat, doa sehari-hari, belajar jadi pembawa acara dan lain sebagainya.

Di GRF aku pernah menjadi bendahara, sekretaris dan 2 periode menjadi ketua, setelah itu aku menjadi pembimbing. Banyak sekali kegiatan positif yang telah kami lakukan lewat organisasi Fiisabiilillah, diantaranya kami beberapa kali mengadakan Turnamen Volly Ball Putri se Kota Bengkulu, kunjungan ke beberapa Panti Asuhan, Pondok Pesantren, Rihlah, Talk Show Remaja dan Permasalahannya, Dialog Terbuka dan lain sebagainya. 

GRF juga pernah mengeluarkan buletin yang kami beri nama FIWARI (Fiisabiilillah Wadah Remaja Islami) dan aku menjadi Pimpinan Redaksinya.

Karena bergabung dengan GRF, aku juga bisa bergabung dengan organisasi PRGC (Pergerakan Risma Gading Cempaka) yang pada waktu itu Kecamatan Singaran Pati belum ada. Di PRGC aku menjabat sebagai sekretaris. PRGC merupakan organisasi gabungan Risma yang ada di kecamatan Gading Cempaka.

Bergabung dengan PRGC membuat tekadku semakin kuat, aku ingin hidupku bermanfaat bagi orang banyak. Di PRGC aku bertemu dengan ikhwan dan akhwat yang soleh/soleha nan cerdas, memiliki jiwa sosial yang sangat tinggi serta rasa persaudaraan yang tak perlu diragukan lagi.

Dirikan Tempat Belajar Mengaji

Belajar dari 2 organisasi tersebut, maka tahun 2006 aku mendirikan tempat belajar mengaji bagi anak-anak yang berada di Jalan Nangka dan sekitarnya.  Tempat Pangajian yang aku beri nama Tempat Pengajian Al-Fikri berdiri pada tanggal 2 Mei 2006. Sejak itulah aku aktif menjadi salah satu guru mengaji di sana sampai sekarang.

Kalau ada yang bertanya apa pekerjaanku, maka aku jawab ibu rumah tangga.  Mengajar mengaji dan juga mengajar les adalah kesibukan sehari-hariku di luar tugas utamaku sebagai ibu rumah tangga. Aku ingin sebelum Allah SWT,  Sang Pemilik Jiwa dan Raga datang menjemputku suatu hari nanti, hidupku harus dan wajib bermanfaat untuk orang lain.

Prinsip hidupku, berbagilah walaupun ilmu yang engkau miliki hanya seujung kuku.  Bersedekahlah setiap saat, jika tak punya harta, bersedekahlah dengan ilmu yang engkau miliki, insyaa Allah itulah yang akan menjadi penolongmu di akhirat nanti.

Kini hampir 15 tahun aku aktif di TP Al-Fikri. Jika sehari saja tidak bertemu dengan santri-santriku, ada rasa rindu  yang sulit aku ungkapkan dengan kata-kata.

Ibun, itulah teriakan dari santri-santriku begitu melihat aku datang setiap sore untuk mengajar ngaji. Ada juga santri yang memanggilku Ummi. Bagiku ibun atau Ummi, dua panggilan itu akan sangat dan selalu aku rindukan jika waktu libur mengaji tiba.

Waktu libur Santri Al Fikri sama dengan libur sekolah.  Walaupun disaat libur aku bisa beristirahat, atau membaca buku-buku islami koleksi pribadi aku dan suami (Abi) tapi berada diantara santri mengaji ada perasaan bahagia tersendiri bagiku.

Aku selalu berdoa semoga semua murid yang pernah les denganku  dan semua santriku menjadi orang-orang sukses di masa depan mereka. (Junny2406)

Artikel Terkait

Artikel Terkait